Saturday, April 28, 2012

Hokben~!


Alhamdulillah banget setelah beberapa tahun ga makan hokben, akhirnya ada kesempatan makan hokben lagi, yay~! Maaf ya agak2 gimana gitu =D, maklum lah di Aceh kan ga ada hokben, jadi kalo ada yg ke kota besar dulu baru bisa nitip. Ayuk kita makan hokben nya^^.



Paling suka sama tempuranya hokben, terutama yang udang, hm, yummy~! =D. Ini udang koq bisa lurus gini ya digorengnya. Biasanya kalo lihat di kondangan yang ada menu udang lurus gini, pasti cara masaknya pake lidi kecil didalamnya, tapi tempura buatan hokben ini ga pake lidi bisa lurus gini. Koq bisa ya? Karena agak2 penasaran, akhirnya dapat juga rahasianya. Coba cek ini di dbento ini, ada dikasih tau cara masak tempuranya. Hm, this is it J.

Kabut di Kotaku

ceritanya minggu lalu ada fenomena alam yang ga biasa di tempat tinggal saya
daerah Darussalam diselimuti kabut yang lumayan merata
karena jarang nge-lihat suasana yang kayak gini jadinya saya abadikan aja..ini fotonya


ini suasana sore tanpa kabut


Sunday, April 15, 2012

Diary, Diary



Menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan buat saya. Nulis tentang apa aja yang sederhana, tentang perasaan, pemikiran, ide2, impian2, uneg2, pokoknya apa aja. dan bagi saya menulis itu ga harus yang ‘berat2’. Kebiasaan menulis saya ini dimulai dari menulis diari. 

Ga ingat persis sejak kapan saya mulai menulis diari, mungkin sekitar SMA atau kuliah dan ga ingat lagi berawal dari mana kebiasaan menulis ini. Kayaknya karena pernah baca tentang hobi salah satu penulis Indonesia yang suka nulis diari waktu kecilnya atau karena saya ketemu buku dengan desain yang bagus menurut versi saya jadinya mulai nulis diari deh. Udah sekitar lima tahunan lebih saya nulis diari dan saat ini saya cuma punya tiga diari. Hal ini menandakan kalo saya ga terlalu rutin nulisnya. Nulis kapan pengen aja. sejak punya laptop, jadi agak malas nulis tangan, jadinya lebih milih untuk buat file diari dan nulis di situ. Namun kendalanya ketika laptop rusak, filenya ikut hilang. Jadinya sekarang back to handwriting deh.

Ngomong2 tentang diari, sedikit yang saya tau tentang kebiasaan penulis Indonesia yang bisa dicontoh menurut saya, asma nadia seperti yang tertulis dalam bukunya, mengatakan bahwa dalam keluarganya biasanya ia mempunyai beberapa buku catatan hati, seperti catatan hati suami istri, catatan hati ibu dan anak. Buku2 itu merupakan salah satu cara bagi mereka untuk berkomunikasi. Karena terkadang, tidak semua hal sanggup kita katakan melalui lisan, namun ia dapat dengan mudah tertuang dalam tulisan. Begitu. Selain itu, beberapa hari lalu, saya membaca sebuah postingan tentang money diary dan tertarik untuk mulai mempunyai catatan tentang finansial, harapannya siy supaya belajar lebih bisa dalam mengatur duit. hm, hopefully =D.


Sunday, April 1, 2012

The Versatile Blogger

Well, dapat versatile award dari ai-chan. Hmm, cek di kamus, versatile itu artinya orang yang cakap dalam berbagai hal, so versatile award itu, award untuk blogger yang bisa nulis apa aja? begitukah? hmm… menjadi pertanyaan besar buat saya, am I really a versatile blogger? Rasa2nya tidak pantas untuk dapat award ini (_ _)! 
Tapi ya, karena udah dikasih, saya terima dengan sukarela^^. seperti biasa, kalo udah award2an pasti ada aturan yang mesti dipenuhi…dan (lagi2) harus nulis tentang diri. Nah, karena ada beberapa postingan yang cukup mendeskripsikan tentang diri saya, maka, saya cuma nge-link postingan2 yang udah pernah saya publish…*malas mode on =D*, ini dia!
  1. 11 Things
  2. Yatta~!
  3. My Properties
  4. My Hijab Story
  5. I'm Not a Party Lover
  6. Nanjak Bukit Bendera
  7. Hana no Shashin

Saturday, March 10, 2012

Cinta yang Terlambat


Info Buku
Judul: Cinta yang Terlambat
Pengarang : Dr. Ikram Abidi
Penerbit: Pustaka Hidayah
Tebal: 523 halaman

Judul asli novel ini adalah Hijaab Waali, sebuah novel tentang hijab menurut saya, juga tentang filosofi cinta dalam Islam. Tertarik untuk membeli buku ini waktu blogwalking dan baca review2 novel ini. Banyak yang bilang bagus, terlebih lagi ketika membaca kata2 yang tertulis di cover novelnya, begitu mengesankan:

Sebagian orang berharap dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai, Doaku sedikit berbeda: Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi.

Seperti yang saya bilang tadi novel ini adalah novel tentang hijab, tapi ia juga romance novel. Sisi romancenya terdapat pada cerita pernikahannya Aariz dan Zeest. Zeest, seorang wanita shalihah, pemakai hijab, yang berupaya menjaga kemurnian cintanya hanya untuk suaminya, Aariz. Walaupun disaat yang sama, Aariz tidak senang dengan Zeest karena hijabnya dan hati Aariz telah terpaut wanita lain. Sisi tentang hijabnya adalah terletak pada tokoh Zeest, seorang wanita pemakai hijab yang selalu menyandarkan perilakunya sesuai dengan tuntunan agama. Menurut saya, tokoh Zeest ini digambarkan dengan sangat sempurna, dari akhlaknya yang begitu baik, anak yang berbakti, cerdas, pintar masak, tenang, begitu penyabar, pemaaf, cantik, …hal2 ideal yang yang harus ada pada diri wanita digambarkan pada tokoh Zeest ini. Berikut ini beberapa petikan dari novel tersebut:

Tentang kehidupan       
Ingatlah, kala kau bersedih karena tidak mendapatkan apa-apa, Tuhan memiliki suatu rencana yang lebih baik
Sewaktu sesuatu terjadi padamu, baik atau buruk, renungkanlah apa maknanya itu. Ada suatu tujuan pada semua kejadian dalam hidup, untuk mengajarmu bagaimana cara tertawa lebih banyak atau cara tidak menangis terlampau keras.
Jika anda ingin hidup sempurna, itu memang menggiurkan, tetapi Anda harus menolaknya, sebab itu tidak lagi akan memberi Anda pelajaran apapun
Bila seseorang membencimu, bukan berarti kamu membencinya pula.
Jika perbuatan seseorang buruk karena alasan tertentu, kita tidak boleh bereaksi dengan cara yang sama, sebab dengan berlaku demikian, kita akan meletakkan diri kita pada tataran yang sama.
Ada kalanya, pengalaman yang tidak mengenakkan berubah menjadi menyenangkan akhirnya. Ada kalanya kejadian2 dan peristiwa2 yang tak diharapkan semakin mendekatkan orang daripada sebelumnya.
Tuhan senantiasa memberikan anugrah yang terbaik-Nya kepada orang2 yang memberikan pilihannya kepadaNya.
Saat kamu melakukan kesalahan terbesar, sesuatu yang baik muncul darinya.
Ketika kau merasa sedih karena kamu belum mendapatkan apa yang kamu inginkan, duduklah diam2 dan bergembiralah, sebab Tuhan tengah merencanakan sesuatu yang lebih baik untuk diberikan kepadamu.

Tentang Cinta
Sebagian pemikiran lebih baik tetap tak terucapkan, sebagian perasaan lebih baik tetap disimpan, tapi cinta mempunyai cara mengungkapkan dirinya kendati dengan diam.
Jangan pernah menangisi siapapun yang tidak mau menangisimu. Menangislah hanya bila dia benar2 patut mendapatkan air matamu.
Perasaan tidak harus diucapkan dengan perkataan, bila kamu mencintai seseorang, perasaan dapat menjelaskannya
Cinta adalah menerima seseorang dengan segala kekuatan dan kelemahannya
Begitu kamu menerima seseorang sebagaimana adanya, ia akan memberi kejutan dengan menjadi semakin baik daripada yang pernah kamu duga.
Kamu tidak bisa membuat orang mencintaimu, yang dapat kamu lakukan ialah menjadi seseorang yang dapat dicintai, selebihnya terserah orang itu untuk menyadari nilaimu.

Tentang Hijab
Akar kata hijab adalah hijaba, sebuah kata Arab, dan itu artinya: menyelubungi, menutupi, melindungi, menaungi, menyembunyikan, menjadikan tidak kelihatan, tidak tampak, menyamarkan, menopengi, menghindarkan dari pandangan, menutupi rapat, menjadi tersembunyi, menjadi samar, menjadi tidak tampak, menghilang dari pandangan. Hijab juga bermakna perasaan malu. Hijab adalah perisai, ia adalah ketakwaan.
Kaum perempuan adalah permata, perhiasan yang tak ternilai, semakin bernilai suatu barang, semakin rapat kita menyimpannya dan ia tidak dipertontonkan kepada setiap orang atau orang2 yang mengunjungi kita.
Sebagai seorang istri Muslim, aku tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suami
Hijab laki2 ada pada ‘mata’ mereka, sebagaimana Allah perintahkan laki2 maupun perempuan agar menundukkan pandangannya. 

Wednesday, February 29, 2012

Granny Square Scarf~!

nyoba2 buat syal dengan model granny square,
dan ini hasilnya :)

benangnya warna warni dengan tema autumn
cocok buat dipake di musim gugur
mungkin bakal dipake pas autumn di aceh..:))



btw, pola granny squarenya dapat dilihat pada gambar dibawah ini,
granny square pattern

syalnya itu sendiri ada 14 biji granny square 
yang disambung dengan cara single crochet
Mengenai jumlah granny squarenya, 
bisa disesuaikan aja dengan selera dan benangnya juga pastinya.





Friday, February 10, 2012

Barakah Itu..

doa pernikahan

Teman : hey, datang ya ke nikahan kakak ku
Aku      : Oh, boleh ni..makan2..hehe
Teman : datang ke kondangan niatnya koq makan2?, niatkan datang untuk ga sekedar makan2, tapi juga mendoakan..
Aku      : Ooo, ada doanya ya? Mau donk..
Teman : iya, ini doanya, Baarakallaahu laka, wa baarakallaahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir....
Aku      : dihafal dulu yak, thanks..^^
***
Well, cerita diatas, cerita waktu sma, dimana sahabat saya mengajarkan sebuah doa barakah pernikahan. Dan Alhamdulillah dari situ jadi sedikit mengerti bahwa tujuan datang ke kondangan ga sekedar untuk datang aja, kasih kado, makan2, nampain muka, salam, ucap selamat ke pengantinnya, tapi ada yang lebih penting yaitu mendoakan keberkahan pernikahan mereka.

Sering kita mendengar ucapan selamat dari orang2 agar pasangan pengantin itu bisa membentuk keluarga sakinah mawaddah warahmah, atau ucapan “selamat ya udah nikah”, “moga banyak anak ya”, “moga langgeng sampe kakek nenek”..dan banyak lagi, salahkah dengan semua itu ucapan baik itu? Untuk tahu tentang hal ini, agak banyak saya ambil tulisan Salim A. Fillah dalam bukunya Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim dalam Bab Barakah J. Cekidot.

            Ada kegundahan besar dalam diri ‘Uqail ibn Thalib, sang pengantin, ketika mendengar kawan2nya berdoa, “semoga bahagia dan banyak anak!” mudah2an sama dengan kegundahan kita ketika mendengar doa “selamat menempuh hidup baru, semoga kekal dunia akhirat!” atau doa, semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah..Lho apa yang salah? Doa2 ini semuanya berisi harapan kebaikan. Apa yang salah?
            Kisah ‘Uqail ibn Thalib ini berujung sebuah sunnah yang sangat indah. Sebuah pelajaran, sebuah doa. Sebuah tuntunan tentang bagaimana selaiknya kita mendoakan orang yang menikah. Berkaitan dengan pembicaraan kita tentang barakah, inshaallah ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga.
            “Janganlah kalian berkata demikian, karena sesungguhnya Rasulullah telah melarangnya” kata “Uqail. Lalu bagaimana? Apa yang harus diucapkan? “Ucapkanlah”, sambung ‘Uqail, “Baarakallaahu laka, wa baarakallaahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir..” Semoga Allah karuniakan barakah kepadamu, dan semoga Ia melimpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan.
            Perhatikan kata yang di italic, sesungguhnya bentuk gabungan preposisi+nomina la+ka (kepada+mu) memiliki arti siratan yang berbeda dengan ‘alai+ka (atas+mu). Yang pertama memberi siratan bahwa barakah kita harapkan pada hal2 yang kita sukai, sedangkan yang kedua memberi pengertian bahwa barakah itu juga kita doakan senantiasa ada dalam hal yang tidak kita sukai. Yang satu bersumsumkan hal2 yang ‘baik’, dan yang lain membawakan makna hal yang ‘buruk’.
            Secara garis besar, hidup ini isinya ya hanya dua yang tadi kita sebut: yang kita sukai dan yang tidak. dan yang pasti, dua2nya ada. Kadang seiring, ada kalanya bergantian, dan berselang seling. Dalam pernikahanpun demikian. Ada saat, ada waktu, ada kala, ada kondisi, ada hal, ada keadaan, semuanya bisa dalam konteks disukai dan tidak. tetapi dalam hal apapun itu, disukai atau dibenci, menyenangkan maupun memprihatinkan, melahirkan tawa atau tangis, membuat gelak maupun isak, kita senantiasa berharap ada barakah. Kita berdoa, baarakallaahu laka wa baarakallahu ‘alaika, dan kita tutup dengan, “Semoga Allah himpun kalian berdua dalam kebaikan.”
                Sejatinya, apa itu barakah?  Sepertinya ia begitu penting, begitu menyita prioritas. Seperti itulah barakah. Seolah ia merangkum aneka harapan, yang sejatinya berujung kebaikan. Bahagia, banyak anak, hidup yang baru, kekal dunia akhirat, sakinah mawaddah wa rahmah. Itu semua harapan. Tentang bahagia dan banyak anak misalnya, memilih calon pasannganpun kita diperintahkan untuk memilih yang penyayang lagi subur, karena Rasulullah akan berbangga dengan banyaknya jumlah ummatnya di hadapan ummat2 lain pada hari kiamat. Tetapi, ada yang bahagia hanya di dunia saja. Ada yang banyak anak justru menjadi fitnah. Ada yang kehidupannya yang baru bukan semakin dekat, tetapi semakin jauh dari Allah. Ada yang kekal berpasangan dunia akhirat, tetapi abadi menggelegak di jahannam, seperti Abu Lahab dan istrinya. Na’udzubillaahi min dzaalik..
            Jadi, apa yang menjadi perangkum, pengikat semua kebaikan dan kebahagiaan itu, agar benar2 menjadi kemuliaan? Apa yang membuat banyak anak dan kehidupan baru menjadi bermakna? Apa yang membuat sakinah, mawaddah, dan rahmah jauh lebih bernilai dari sekedarnya saja?
            Barakah. Ya, barakah. Dan kita bertanya2, apa itu barakah. Sederhananya, barakah adalah bertambahnya kebaikan dalam setiap kejadian yang kita alami waktu demi waktu. Ketika Allah mencintai hambaNya, maka ia berkenan membuat hati sang hamba begitu peka. Saat ditenggelamkan dalam lautan nikmat, ia peka dan tidak pernah melalaikan satu kata. Syukur. Lain sisi, disaat Allah juga mengasahnya dengan gelombang musibah yang bertubi2, dia tidak melupakan satu kata. Sabar.
            Barakah adalah keajaiban. Keajaiban yang hanya terjadi pada orang beriman. Jadi, yang dicinta disisi Allah tak selalu mereka yang senantiasa tertawa dan gembira. Sebagaimana bukan berarti dibenci Allah jika senantiasa merasakan kesempitan. Di dalam sebuah pernikahan, barakah menjawab, barakah menjelaskan, menenangkan, dan menyemangati. Bahwa apapun kondisinya, kemuliaan di sisi Allah bisa diraih.
            Telah begitu panjang pembicaraan kita tentang barakah, afwan. Maafkan saya. Tentu yang lebih berharga saat ini adalah, bagaimana kita meraih barakah itu. Bagaimana agar dalam kondisi apapun, kapanpun, dimanapun, nafas2 kita adalah hembusan keberkahan, detik2 kita dihitung sebagai kebaikan, sebagai pahala. Bagaimana? Dimana kita harus mencari barakah itu?
            “jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan bukakan atas mereka pintu-pintu barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Al A’raaf 96)
            Shadaqallaah…kunci barakah itu ada pada keimanan dan ketakwaan. Keimanan yang meyakinkan kita untuk terus beramal shalih menurut apa yang telah dituntunkan Allah dalam tiap aspek hidup, semuanya. Dan ketaqwaan, yang mengisi hari2 kita dengan penjagaan, kepekaan, dan rasa malu bahwa kita senantiasa dalam pengawasan Allah. Dan jika hidup ini terasa menyiksa, kita merasa semakin jauh dengan Alah..mari, mengajak diri kita untuk berkaca. Barangkali ada nikmat Allah yang kita kufuri. Barangkali ada karunia yang kita dustakan. Atau mungkin ada ayat-ayatNya yang kita permainkan. Astaghfirullaah. Astaghfirullaahal ‘Adhiim..  
            Wahai jiwaku yang mendamba barakah dalam pernikahan sebagaimana saudara2mu telah mendoakan.. wahai diriku yang merindu detik2 kebahagiaan dan kedekatan dengan Allah..inilah saatnya. Inilah waktunya untuk menggapai pernikahan yang barakah itu. Jika engkau belum menikah, ada kesempatan untuk mempersiapkan dan ada waktu untuk menata hati. Dan jika Engkau telah menikah, tiada kata terlambat untuk mengisi hari2 kedepan dengan perbaikan. Karena kita tak boleh berhenti belajar, dan tak terkenan istirahat untuk terus memperbaiki diri.

~teruntuk teman2ku,
adin, chandra, munan, ipan-ulfa, dan lia serta
semuanya yang telah menggenapkan setengah dien,
Baarakallaahu laka, wa baarakallaahu alaika, 
wa jama’a bainakuma fii khaiir..

wedding card

“Semoga Allah memberi barakah kepadamu (dalam suka) dan semoga Allah memberi barakah atasmu (dalam duka), dan semoga Ia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.” 
(HR. Sa’id ibn Manshur) dinilai Sahih

Tuesday, January 17, 2012

Let’s talk about dowry!


Pembahasan tentang mahar, pasti ga bisa lepas dari pernikahan. Karena mahar merupakan salah satu syarat sah pernikahan. Kalo datang ke acara pernikahan, salah satu yang menjadi pertanyaan dalam hati, berapa-an ya maharnya. Hanya sekedar pengen tau aja siy. Mengingat bahwa ternyata mahar di Aceh ini termasuk yang kedua tertinggi di Indonesia setelah Sulawesi (sumber). Pada tulisan ini, ingin sedikit membahas tentang Mahar dalam Islam dan Mahar dalam adat Aceh.

Mahar dalam Islam
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita yang kalian nikahi
sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.
(An Nisa:4)

Syari’at tidak memberikan batasan pada mahar karena tingkat ekonomi setiap individu itu berbeda. Namun, dianjurkan bagi muslimah untuk meringankan mahar.

Rasulullah pernah bersabda:
“Sebaik-baik mahar adalah yang paling meringankan”
(HR. Abu Dawud, Al-Hakim, dan ia menshahihkannya)

Realita pada zaman Rasulullah, kita dapati bahwa pernikahan menjadi begitu mudah karena mereka tidak memberat2kan masalah mahar. Pemuda, dengan kerelaan dari calon istrinya, memberi mahar menurut tingkat kemampuannya masing-masing. Bagi yang mampu, mereka dapat membayar mahar secara tunai, jika tidak mampu mereka dapat membayar mahar secara cicil, dan jika sangat2 tidak mampu pun, mereka dapat memberikan mahar dalam bentuk apapun dengan nominal serendah mungkin. (Sumber).


Mahar dalam Adat Aceh
Di aceh, maharnya didasarkan pada emas dengan satuan mayam yang setara dengan 3,3 gram emas. Dilihat dari pemilihan emas sebagai mahar, bisa dimaklumi karena mahar itu salah satunya dapat berupa harta (materi) yang mempunyai nilai nominal. Selain ia juga bisa berupa jasa atau manfaat yang dapat diambil oleh sang muslimah.

Kebanyakan teman2 saya yang sudah menikah, mahar mereka mengikuti standar yang berlaku di Aceh. Kurang tau juga penetapan standarnya darimana, mungkin dilihat dari rata-rata pernikahan yang terjadi di masyarakat Aceh, yaitu sekitar 10 mayam. Selain itu ada yang 16 mayam, 20 mayam, bahkan pernah suatu kali ketika menghadiri pernikahan seseorang, ketika disebutkan maharnya mencapai 30 mayam. Wow~! Bagi saya fantastis banget nilai maharnya. Jadi shock sendiri waktu dengarnya. Cuma bisa berprasangka baik bisa jadi sang wanita banyak bersyukur dan sedekah kali ya, jadi bisa dapat rezeki mahar yang begitu banyak dan berprasangka baik juga mudah2an sang pria benar2 ikhlas memberikan maharnya dengan penuh kerelaan kepada istrinya.

Bagi saya, seberapapun mahar yang diminta oleh sang wanita, jika sang pria mampu ya silakan2 saja. Yang jadi masalah jika jumlah mahar yang diminta itu memberatkan bagi sang pria, repot deh jadinya karena pernikahan yang seharusnya disegerakan menjadi tertunda. Karena dalam pikiran saya, menikah itu kan untuk kebahagiaan berdua, maka saling pengertianlah idealnya J.

Mahar Tinggi, Positif dan Negatifnya
(+)
Menekan angka perceraian, supaya orang2 ga mudah kawin cerai
Untuk memacu semangat pemuda2 agar lebih berusaha mencari penghasilan
(-)
pernikahan yang sebaiknya disegerakan, malah jadi tertunda
pacaran yang dilarang, malah jadi bertambah lama
Bagi yang kurang mampu, diusianya yang matang jadi telat deh nikahnya..

Jadi solusinya gimana ya? Mungkin hal ini dapat dimulai dari para muslimah itu sendiri. jika permintaan mahar itu dapat disanggupi oleh sang pemuda, maka Alhamdulillah. Tapi jika memberatkan bagi sang pemuda, maka ringankanlah (sumber).

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.” 
(HR. Abu Dawud (n. 2117), Ibnu Hibban (no. 1262 dalam al-Mawaarid) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (I/221, no. 724) dshahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihihul Jaami’ (no. 3300))


Tapi ditengah2 fenomena semacam itu di Aceh, saya yakin, tidak semua keluarga Aceh seperti itu. Saya teringat dengan seorang teman yang menjadikan mahar pernikahannya berupa hafalan al-Qur’an. Kagum saya pada sikapnya yang tidak memberatkan mahar calon suaminya. Serta orang tuanya yang juga berlapang dada terhadap calon menantu mereka.

Mahar, tinggi atau tidaknya, tidaklah menandakan kemuliaan atau ketaqwaan seseorang. Maka permudahkanlah urusan mahar, jangan berlebih2an.

~moga dapat menjadi bahan renungan, terutama bagi diri jika saat itu tiba~

Sunday, January 15, 2012

The 3rd Trimester: Doa-Doa untuk Meminta Keturunan yang Baik

Ini beberapa doa yang sering saya panjatkan ketika hamil. “rabbi innii nazartu laka maa fii batni muharraran fataqabbal minni, inn...