Showing posts with label I Share. Show all posts
Showing posts with label I Share. Show all posts

Friday, July 12, 2013

#Sabar




Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali
(QS.Al-Baqarah: 155-157)

Tiada seorang hamba yang mendapat musibah, lalu dia mengucapkan 
'Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala disebabkan musibahku ini dan gantilah ia dengan yang lebih baik daripadanya,' melainkan Allah memberinya pahala atas musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik daripadanya"
(HR. Muslim)

Sesungguhnya pahala orang-orang yang sabar itu akan dipenuhi tanpa hisab.

Sabar ialah pengakuan seorang hamba kepada Allah atas musibah yang menimpanya itu dari Allah dan menyerahkan perhitungannya kepada Allah dengan mengharapkan pahala-Nya. Terkadang seseorang berkeluh keah, namun dia harus berkeras bahwa tiada jalan lain kecuali bersabar. 

Sunday, December 23, 2012

Doa Kebaikan Dunia - Akhirat


Dapat pemahaman yang baru berkaitan dengan doa. Muhammad Nasib Ar-Rifa’I dalam Tafsir Ibnu Katsir mengatakan bahwa:
Allah memberi petunjuk pada manusia untuk berdoa kepadaNya setelah banyak berzikir kepadaNya, sebab dalam keadaan seperti itu diduga kuat doa akan terijabahi. Dia mencela orang yang tidak berdoa selain untuk urusan dunianya, ia berpaling dari urusan akhiratnya.
Dia berfirman, “Maka di antara manusia ada yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia.’ Dan tidak ada bagian untuknya di akhirat.” Misalnya dia mengatakan, “Ya Allah, jadikan tahun ini sebagai tahun yang banyak turun hujan, tahun kesuburan, dan tahun kelahiran anak yang baik”. Mereka tidak menyebut perkara akhirat sedikitpun. Berkaitan dengan mereka, Allah menurunkan ayat, “Maka diantara manusia …” Sepeninggal mereka (jahiliah) datanglah kaum mukmin. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Kemudian Allah menurunkan ayat, “Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah Mahacepat perhitunganNya”. Oleh karena itu, Dia memuji orang yang meminta dunia dan akhirat. Dia berfirman, “Dan di antara mereka ada yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.’” Doa ini menghimpun segala kebaikan dunia dan menjauhkan segala kejelekannya. Karena kebaikan itu mencakup segala permintaan dunia, seperti kesehatan, rumah, istri, rezeki, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, perjalanan yang mudah, dan pujian yang indah, yang semuanya termasuk ke dalam kebaikan dunia. Sedangkan, kebaikan akhirat adalah lebih tinggi daripada itu, seperti masuk surga dan implikasinya berupa keselamatan dari ketakutan yang sangat hebat dan kemudahan hisab. Adapun keselamatan dari neraka menuntut kelancaran berbagai macam sarananya ketika di dunia, seperti menjauhi berbagai perkara yang diharamkan, dosa seperti menjauhi perkara syubhat, dan haram. Al Qasim Abu Abdurrahman berkata, “Barangsiapa yang dianugerahi hati yang suka bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir, dan diri yang sabar, berarti ia diberi kebaikan dunia dan akhirat serta dipelihara dari neraka. Oleh karena itu, terdapat Sunnah yang memotivasi pengamalan doa itu.”

Semoga, dengan pemahaman ini menjadikan kita, terutama saya untuk lebih menghayati doa ini:

Friday, August 3, 2012

Keutamaan Beristighfar


Terinspirasi nulis tentang ini setelah dengar ceramah seorang ustadz semalam. Ustadz itu menceritakan tentang kisah Hasan Al Basri yang didatangi oleh tiga orang yang mengadukan tentang keadaan hidup mereka, mereka mengeluhkan tentang musim kemarau, keadaannya yang fakir, dan sulit mendapat keturunan. Saat itu Hasan Al Basri memberikan solusi kepada masing-masing mereka untuk memperbanyak istighfar.
Saat itu rekan Hasan Al-Basri menanyakan, mengapa ia menganjurkan untuk memperbanyak istighfar bagi orang2 yang sedang kesulitan tersebut, Hasan Al-Basri menjelaskan bahwa ia memberikan solusi tersebut berdasarkan dalil. Bahwa sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh:

“Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”. (QS. Nuh: 10-12)


Adapun Hadits mengenai keutamaan istighfar adalah:

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

Lafal istighfar yang ada tuntunannya adalah:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Astaghfirullâh.
HR. Muslim.

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه
Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih.
HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani..

Istighfar dibawah ini merupakan redaksi istighfar yang paling istimewa

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِى ، فَاغْفِرْ لِى ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta”. HR. Bukhari.

Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tiada sesembahan Yang Haq kecuali Engkau. Engkaulah yang telah menciptakanku dan aku adalah hambaMu. Aku setia di atas perjanjianMu dan janjiku kepadaMu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku serta aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau (HR. Bukhari)

Sumber tulisan mengenai penjelasan yang lebih detil tentang istighfar ini dapat dibaca

Tuesday, June 7, 2011

Tidak Pernah Sempurna








Kecewa, bisa terhadap diri sendiri maupun orang lain. Mungkin kita pernah kecewa pada saat salah dalam mengambil keputusan sehingga menzalimi diri sendiri. Kemudian kita merasa menyesal. Hm, menyesal boleh aja karena di satu sisi ia bisa mencerdaskan tetapi pada saat yang sama pula ia bisa melukai, tergantung diri kita aja mau pilih yang mana. Begitupun, kecewa terhadap orang lain yang mungkin bersikap tidak sesuai dengan yang kita harapkan, atau sebab lainnya.
Apapun penyebab rasa kecewa kita, sebenarnya hal itu merupakan hal yang tidak lepas dari kehidupan kita sebagai manusia, sebagai hambaNya. Karena, seperti yang dikatakan oleh Aidh al-Qarni dalam bukunya As’adu-Imraatin fil’alam, kebahagiaan dan kebaikan tidak pernah sempurna untuk seseorang.
Sekali lagi, tidak pernah sempurna kebahagiaan bagi seseorang. Suatu waktu dalam kehidupan, kita pasti pernah merasakan kecewa dan mungkin terluka karena persoalan yang kita hadapi. Hal yang bisa kita lakukan hendaknya jangan terlalu larut dalam kesedihan yang tiada akhir. Karena sesungguhnya penyesalan yang berkepanjangan—dalam pandangan Islam—merupakan salah satu fenomena kekufuran dan marah terhadap takdir-Nya (Aidh al-Qarni). Lagian, kalo sedihpun ingat aja bahwa untuk kesedihan juga berlaku hal yang sama yaitu tidak ada kesedihan yang sempurna (Tere Liye).


***

Again and again my writing is about disappointment. There is no any intention, I just write the summary of any references which I have read. Let’s start from a question, “What’s make someone feel disappointed?” When we have a very high standard in our dream and target in our life, sometimes we will feel disappointed when we can’t reach or make it come true.
We may feel disappointed to ourselves or other people. When we had taken wrong decisions which cause disadvantage to ourselves. Then, we regret it. Hm, feeling regret is okay because in one side it can make us smarter than before but at the same time it can make us more injured. It is up to us which one we wanna choose. In addition, we may feel disappointed to others who may treat us do not fit as we expected.
Whatever the cause of our disappointment, it’s a fact that we’ll never avoid this feeling in our life, as part of His creation. The reason is because, like being said by Aidh al-Qarni in His book As’adu-Imraatin fil’alam, happiness and goodness never perfect for someone.
Once more, happiness never perfect for anyone. Some time in life, we will feel disappointed and injured because of problem that we face. One thing that we can do it is not too feel an endless grieve, because of the prolonged remorse – in view of Islam- is one of the phenomena of disbelief and anger towards His destiny (al-Qarni). In addition, if we were sad, please remember that for the grief is also never perfect for anyone.
  
.:Banda Aceh, 7 Juni 2011:.

Monday, June 6, 2011

Sabar

Bagaimana caranya supaya menjadi pribadi yang penyabar?
 Sebuah tanya yang akhirnya saya temukan jawabannya.
Jika ingin sabar, maka BERSABARLAH.
Sederhana aja bukan? Yup, jawaban yang terbaik selalu sederhana.

.:Banda Aceh, 6 Juni 2011:.

Pemulih Jiwa


Ketika menonton acara motivasi Mario Teguh Golden Ways (MTGW) dengan tema Pemulih Jiwa, sebuah polling dilakukan dengan menanyakan, “Saat merasa marah, sedih, sakit hati dan kecewa, apa yang Anda lakukan?” Ada tiga opsi yang diberikan. Yang pertama, mengurung diri di kamar dan menangis sejadi-jadinya, yang kedua, memilih untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman, dan ketiga, bertapa dan menenangkan diri.
Hm, hasil polling menunjukkan bahwa 20% peserta acara MTGW memilih opsi yang pertama, 70% dan 10% untuk opsi kedua dan ketiga. Hasil polling tersebut menarik karena ternyata sebagian besar orang memilih kongkow bareng teman untuk bersenang-senang agar melupakan masalah. Tetapi perilaku seperti ini disebut Pak Mario sebagai perilaku masking (topeng), karena ia bersenang-senang untuk menutupi kesedihan. Orang seperti ini pasti takut untuk berada dalam kesendirian karena khawatir akan teringat dengan masalah yang menyebabkan ia merasa sedih, sakit hati, marah dan kecewa.
Sedangkan untuk opsi pertama dan ketiga agak sama, yaitu membutuhkan waktu dalam kesendirian untuk menenangkan diri. Walaupun sebenarnya hal itu tidak menyelesaikan masalah. Setidaknya ada ketenangan yang didapat dari tangisan dan kesempatan untuk intropeksi diri serta memikirkan solusi. Untuk orang seperti ini, mudah-mudahan masalah tidak sering menghampiri hidupnya, karena kalau tidak bawaannya nangis dan menyendiri terus.
Menurut saya, poin penting yang ingin disampaikan Pak Mario pada acara tersebut adalah bahwa sesakit-sakitnya hati kita, masalah harus tetap dihadapi dan kita juga butuh untuk curhat pada sang Khalik, mengadu padaNya. Selain itu, jadilah pribadi yang bisa menemukan keheningan dalam sesibuk-sibuk waktu kita karena kita akan menjadi pribadi yang baru setelah berbicara dengan Nya. Jikalau kita menganggap masalah itu berat, sebenarnya Allah SWT memberikan masalah kepada kita dalam kapasitas yang sesuai dengan kekuatan kita. Anggap saja ketika ada ketidakbaikan yang kita terima hari ini, itu disebabkan karena ketidakbaikan yang pernah kita perbuat dulu. Dan jika ada kebaikan yang kita terima hari ini, maka itu disebabkan karena kebaikan yang kita buat dulu.
Saya teringat dengan sebuah ungkapan, ketika kita merasa kecewa dengan sikap orang terdekat kita atau orang lain yang membenci atau tiba-tiba menyakiti hati kita, maka jangan marah dulu, intropeksi dirilah, mungkin kita telah berbuat dosa, mungkin kita melakukan maksiat yang tidak diketahui orang lain dan kita belum bertaubat. Perbaikilah hubungan kita denganNya maka Ia akan memperbaiki hubungan kita dengan orang lain.
.:Banda Aceh, 6 Juni 2011:.

Sunday, March 27, 2011

Ketika ada Masalah..


Dalam berinteraksi dengan teman maupun orang lain, terkadang kita menghadapi adanya ketidakcocokan atau perlakuan orang lain yang kurang baik terhadap diri kita. Dalam hal ini, Islam menuntun kita agar melihat diri sendiri (intropeksi diri) ketika kita mempunyai masalah dengan orang lain.

Belajar dari kisah Nabi Adam as, ketika ia berbuat kesalahan di Surga, dia segera mengakui dirinya bersalah. Dalam doanya,
“Rabbana zalamna anfusana waillam taghfirlana, watarhamna lanakuu nanna minal khasirin” ~Rabb kami, telah kami aniaya diri sendiri, andai Engkau tidak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi~

Doa ini menunjukkan bahwa Nabi Adam as mengakui bahwa dirinya telah berbuat dosa, Ia tidak menyalahkan orang lain atas kesalahan yang ia perbuat. Pada kisah ini, Nabi Adam as bisa berbahagia karena lima hal.
pertama, ia berbuat salah dan segera mengakui dosanya.
kedua, dia menyesali perbuatannya, seperti doa diatas yang mengungkapkan penyesalannya
ketiga, dia mencela dirinya, seperti dalam sebuah hadits yang mengungkapkan bahwa jika seseorang mendapat kebaikan hendaklah ia memuji Allah SWT, sebaliknya jika mendapati sesuatu yang tidak menyenangkan seperti masalah, musibah, ketidaksuksesan, ketidakberuntungan, apa saja yang dalam pandangan manusia merugikan, jangan sekali2 menyalahkan orang lain, tapi salahkan diri sendiri. Ini adalah tuntunan Nabi. Seperti kisah Nabi, yang ketika itu berjanji dengan Malaikat Jibril, tapi pada waktu dan tempat yang dijanjikan, Jibril tidak muncul sehingga menyebabkan Nabi gelisah. Kemudian Nabi sadar bahwa ternyata di sudut ruangan ada seekor anak anjing, sehingga Nabi segera memerintahkan untuk memindahkan anak anjing tersebut dan Malaikat Jibril pun datang. Saat itu, Jibril berkata, “Kami (para malaikat) tidak mau memasuki sebuah rumah yang disitu ada gambar dan anjing”.
keempat, segera bertaubat.
kelima, beristighfar. Sebanyak apapun dosa kita, jangan putus asa akan rahmat Allah

Konsep ini, dapat kita aplikasikan dalam segala hal, urusan rumah tangga, bisnis.. Misalnya, jika seorang istri ada masalah dengan suami dan anak2nya, maka intropeksi dirilah. Begitupun, bagi para pebisnis, jika gagal meraih target maka intropeksi dirilah, jangan menyalahkan bawahan, jangan menyalahkan orang lain..dan hendaknya kita menghindarkan diri kita dari sikap yang tidak mengakui dosa, tidak merasa menyesal, suka memyalahkan orang lain, tidak mau bertaubat, putus asa. Jika salah langkah diawal, maka seterusnya juga akan salah.

Jika ada masalah jangan ditinggalkan, coba selesaikan. Insya Allah, setiap masalah pasti ada solusinya, Karena Islam datang dengan membawa solusi. Tinggal kitanya, mau ndak terbuka dan berlapang dada untuk menerima solusi yang dibawa oleh Islam.

Teringat dengan beberapa ungkapan (dari berbagai sumber tulisan) yang semoga bisa kita ingat dan kita ambil hikmahnya ketika menghadapi masalah.

“Jika kita tahu orang terdekat kita atau orang lain membenci atau tiba-tiba menyakiti kita, maka jangan marah dulu. Intropeksi dirilah, mungkin kita telah berbuat dosa, mungkin kita melakukan maksiat yang tidak diketahui orang lain dan kita belum bertaubat.”

“Ketika ikatan lain telah terputus, ikatlah hubungan kita dengan Allah. Perbaikilah hubungan dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan orang lain.

~sumber tulisan Ketika ada Masalah.. di sini~
.:Banda Aceh, 26 Maret 2011:.

Sunday, March 13, 2011

Belajar Memahami Takdir


Pada postingan ini, saya ingin membahas sedikit tentang Takdir Allah. Tulisan ini merupakan intisari dari kajian di Radio Rodja yang saya dengar, judulnya Memahami Iman kepada Takdir Allah. Bagi yang belum sempat mendengar kajian ini, moga tulisan saya ini bisa bermanfaat ya.

Takdir itu adalah qudratullah (kemahakuasaan atau kemahamampuan Allah). Ia adalah landasan utama ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah). Beruntunglah kaum muslimin yang dimudahkan untuk memahami takdir Allah. Iman kepada takdir itu penting karena merupakan salah satu rukun iman dalam Islam. Ia juga merupakan landasan iman yang paling kuat karena menurut perkataan Ibnu Abbas,

“Mengimani takdir Allah adalah rangkaian yang menyusun tauhid. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah sekaligus mengimani takdir maka ia telah berpegang pada tali Allah yang tidak akan putus selama2nya. Tapi barangsiapa yang mentauhidkan Allah tapi tidak mengimani takdir maka ia telah merusak tauhidnya sendiri”
(Ibnu Abbas)


Al Qadar, secara syar‘i berarti keterikatan antara ilmu Allah dan kehendaknya yang Maha Terdahulu terhadap segala sesuatu yang terjadi di makhluknya sebelum IA menciptakan mereka.

“Allah telah menakdirkan ketentuan2 semua makhluknya sebelum IA menciptakan langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun”
(HR. Muslim)

Allah menuliskan semua itu, menetapkan semua itu sebelum IA menciptakannya artinya tidak ada sesuatupun yang terjadi di dunia ini melainkan Allah telah mengetahuinya, menghendaki dan menetapkannya tentu saja dengan kandungannya hikmah yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna. Dimana hikmah itu sendiri berarti bahwa IA menetapkan segala sesuatu pada tempatnya secara persis.

“Bersemangatlah mengerjakan apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah. Kalau kamu ditimpa sesuatu maka janganlah mengatakan “Seandainya aku berbuat ini maka mesti begini hasilnya” tapi katakanlah “Qadarullah” ini adalah takdir Allah atau “Qadarullah” ini adalah ketentuan Allah dan apa yang dikehendakinya akan terjadi”
(HR Abu Dawud, Imam Ahmad, Ibnu Majah dan yang lainnya dengan sanad yang sahih)

Hendaknya kita meyakini bahwa apa yang menimpa kita, tidak akan luput dari diri kita dan apa yang Allah tetapkan luput dari kita, tidak akan menimpa kita. Dalam Hadits Arba’in an Nawawiyah yang kedua, kita ketahui bahwa

“…Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kepada qadar baik dan buruk…” (HR. Muslim).

Mengenai takdir yang buruk, apa artinya takdir yang buruk? apakah ada takdir atau perbuatan Allah yang buruk? bukankah telah kita pahami bahwa semua sifat2 Allah adalah sempurna baik, tidak ada yang buruk. kenapa dikatakan ada takdir yang buruk? juga dalam doa qunut, “Ya Allah jagalah aku dari keburukan takdir yang Engkau tetapkan”. Ini menunjukkan seolah2 ada keburukan. Mengenai hal ini, ulama menjelaskan tentang arti takdir yang buruk, bahwa keburukan yang ada pada ketentuan Allah SWT bukanlah itu dikembalikan kepada perbuatan Allah menakdirkan, karena Allah menakdirkan segala sesuatu dengan hikmah yang sempurna dan agung, tidak ada keburukan padaNya. Tetapi keburukan ini adalah jika dinisbahkan kepada yang ditakdirkanNya. Misalnya Allah menakdirkan musibah bagi manusia. Bagi manusia ini buruk sehingga dikatakan takdir yang buruk artinya ketentuan takdir yang telah berlaku pada manusia ini adalah buruk bagi pandangan manusia.

Aku ini sesuai dengan persangkaan hamba kepadaKu
(HR Bukhari dan Muslim)

Kalo seseorang berprasangka baik kepada Allah, berharap baik kepada Allah maka Allah akan memberikan kebaikan kepadaNya. Pertanyaannya adalah, Bagaimana berprasangka baik terhadap masalah takdir? kita berprasangka, berharap bahwa Allah SWT menuntun kita kepada takdir yang baik yang dengan konsekuensinya persangkaan atau pengharapan kita ini, kita mengikuti petunjuk yang telah disyari’atkan kepada kita dengan melakukan kebaikan, kalau ada kesalahan kita segera bertaubat kepada Allah yang dengan itu Insya Allah maka kita berharap Allah SWT akan menetapkan kebaikan bagi diri kita karena kita telah berprasangka baik, menghadapkan persangkaan baik kita kepadaNya dan disertai usaha yang kita lakukan untuk menjadi sebab terwujudnya apa yang kita inginkan dari kebaikan2 dari Allah SWT.

Landasan utama kebaikan adalah kamu meyakini apa yang Allah kehendaki bagimu akan terjadi dan apa Allah tidak kehendaki tidak akan terjadi. Bagaimana ini bisa menjadi landasan kebaikan? karena orang yang meyakini segala sesuatu yang terjadi didalam dirinya maupun orang lain adalah takdir Allah, maka dia menyakini bahwa ternyata kalau dia berbuat baik itu dari siapa? dari taufik dan anugrah Allah, bukan kemampuan dirinya sendiri. Kalau dia melihat orang lain berbuat buruk atau dirinya berbuat salah, dia juga tahu bahwa itu adalah karena Allah berpaling darinya sehingga memudahkan ia berbuat keburukan. Maka dengan itu, untuk melakukan kebaikan dia bersungguh2 berdoa kepada Allah agar selalu dimudahkan berbuat kebaikan dan untuk keburukan dia meminta sungguh2 agar dihalangi dari sebab2 yang membawa keburukan. Perasaan seperti inilah yang merupakan kunci taufik dan hidayah karena telah bersepakat orang2 yang mengenal Islam, “Pengertian taufik itu adalah bahwa Allah tidak menjadikan dirimu bersandar kepada dirimu sendiri dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan”. Jadi, seperti doanya Nabi,

“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan aku bersandar kepada diriku sendiri
meskipun hanya sekejap mata”.

Ini adalah doa Nabi yang terkenal, karena orang yang bersandar pada dirinya sendiri akan binasa. Allah akan meninggalkannya. Allah SWT akan menolong seseorang sesuai dengan sejauhmana ketergantungan manusia itu kepadaNya. Maka, ternyata iman kepada masalah takdir adalah sumber kebaikan karena menjadikan orang selalu bergantung kepada Allah. Kunci taufik itu adalah doa, sungguh2 bersandar padaNya. Untuk memiliki kunci kebaikan caranya adalah meminta kepada Zat yang memilikinya yaitu Allah SWT dan kesimpulannya adalah penghimpun segala kebaikan adalah banyak berdoa dan meminta kepada Allah.

Hm, sebenarnya banyak lagi ilmu yang saya dapat dari mendengar kajian ini, tapi karena keterbatasan ilmu, saya hanya mampu menulis segini saja. Intinya, mari kita sama2 belajar memahami takdir, belajar juga untuk selalu ikhlas dan ridha atas ketetapan-Nya. Kajian lengkap tentang topik ini bisa didengar di sini.

Sunday, October 3, 2010

Memahami Iman kepada Qadar Baik dan Buruk

Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk

Allah swt.berfirman,
          “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al Hadid [57]:22-23)

Dan Allah swt. berfirman,
          “…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” (al-Baqarah [2]:216)

          Iman kepada qadha dan qadar memiliki peran yang besar dalam menenangkan hati ketika ditimpa musibah, khususnya bila seorang hamba menyadari secara sempurna, bahwa sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menghendaki kemudahan bagi hamba-hamba-Nya. Allah swt. telah menyimpan balasan yang tidak terhingga di akhirat bagi orang-orang yang bersabar. Bila hal ini direnungkan dan dipraktikkan, maka kesedihan dan penderitaan yang ditimbulkan oleh musibah bisa berubah menjadi kesenangan dan kebahagiaan. Namun, tidak setiap orang kuat menghadapi hal ini.

          Jadi, langkah-langkah apa saja yang harus Kita tempuh untuk meringankan penderitaan dan musibah, serta membuat jiwa menerimanya? Simaklah beberapa tips berikut ini:
1.      Bayangkanlah bahwa musibah yang menimpa diri kita di masa lalu adalah lebih besar dan lebih buruk akibatnya bagi Kita daripada musibah yang sedang menimpa Kita saat ini
2.      Renungkanlah bahwa disana ada orang yang ditimpa musibah yang lebih besar dan lebih dahsyat daripada Kita
3.      Lihatlah kenikmatan dan kebaikan yang ada pada diri kita sendiri, dimana banyak sekali orang yang tidak memilikinya
4.      Jangan pernah menyerah kepada perasaan putus asa yang menyertai Kita ketika musibah menimpa, karena Allah swt. berfirman,
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (al-Insyirah [94]:5-6)

***
(di ambil dari buku Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia,
karangan Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni, M.A., hal 210-211)

.:Banda Aceh, 1 Oktober 2010:.

Thursday, September 9, 2010

Idul Fitri Ala Rasullullah



Ga terasa udah hampir lebaran, Insya Allah kita merayakan Hari Raya Idul Fitri yang sering disebut juga dengan Hari Kemenangan. Menang dalam artian sukses dalam menjalankan puasa ramadhan. Ada beberapa adab yang dicontohkan Rasulullah dalam merayakan Idul Fitri. Ini dia, Selamat Menikmati ;)…
1. Disunnahkan Mandi, Memakai Wewangian dan Berpakaian yang Baik
Dari Anas bin Malik ra. Ia menceritakan:
“Pada hari Idul Fitri dan Idul adha, Rasulullah memerintahkan kami untuk mengenakan pakaian terbaik yang kami miliki dan memakai wewangian terbaik yang ada pada kami, serta berkurban dengan hewan yang tergemuk yang kami punyai.”
 HR. Al-Hakim
2. Disunnahkan Makan Sebelum Melaksanakan Shalat Idul Fitri
Disunnahkan untuk memakan beberapa buah kurma yang jumlahnya ganjil sebelum berangkat menuju tempat pelaksanaan shalat Idul Fitri. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Anan bin Malik, dimana ia menceritakan:
“Rasullullah SAW tidak berangkat shalat pada Hari Raya Idul Fitri, sehingga beliau memakan beberapa buah kurma”
Murajja’ bin Raja’, mengatakan: Ubaidillah pernah memberitahukan kepadaku, dia menceritakan: Anas bin Malik ra. Pernah memberitahukan kepadaku dari Nabi SAW: Bahwa beliau memakan kurma itu dalam jumlah ganjil.“
HR. Al-Bukhari
3. Dianjurkan agar kaum muslimin hadir ke tempat shalat, termasuk anak-anak dan wanita-wanita yang sedang haid sekalipun
“Kami pernah diperintahkan untuk membawa keluar kaum remaja putri maupun wanita yang sedang haid pada kedua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) untuk menyaksikan kebaikan dan mendoakan kaum muslimin. Adapun bagi wanita haid hendaknya sedikit menjauh dari tempat shalat.”
Muttafaqun Alaih
4. Menempuh Jalan yang Berbeda
Apabila berangkat shalat ‘Ied, Nabi menempuh jalan yang berbeda dengan jalan yang beliau tempuh pada saat pulang”
HR. Al-Bukhari
5. Mengucapkan Selamat pada Hari Raya
“Apabila para sahabat Rasulullah SAW bertemu pada hari raya, maka mereka saling mengucapkan: Taqabballahu Minna wa Minka.
Al-Hafiz Ibnu Hajar mengatakan, isnad hadits ini berstatus hasan
6. Disunnahkan Bersedekah bagi Kaum Wanita pada Idul Fitri
Nabi mengerjakan shalat pada Hari Raya Idul Fitri. Pertama beliau mengerjakan shalat, lalu berkhutbah. Ketika selesai khutbah, beliau turun dari mimbar dan mendatangi kaum wanita, lalu mengingatkan mereka. Sedang beliau dalam keadaan bersandar pada tangan Bilal. Sementara Bilal sendiri mengembangkan kain jubahnya untuk selanjutnya para wanita itu meletakkan sedekah kedalamnya. Apakah itu zakat fitri? Tanya Jabir kepada Atha’. Atha’ menjawab: Tidak, akan tetapi itu adalah sedekah yang dikeluarkan pada hari tersebut. Ada diantara mereka yang melepas cincin dan menyerahkannya dan wanita lain meletakkan apa saja yang mereka miliki di baju (kain) yang dibentangkan oleh Bilal. Aku tanyakan lagi: adakah Imam pada masa sekarang ini berhak berbuat demikian dan memberi peringatan kepada kaum wanita? Atha’ menjawab” Sesungguhnya yang demikian itu merupakan hak atas mereka. Jadi, mengapa mereka tidak mengamalkannya?
HR. Al-bukhari
Nah, udah tau kan? Moga bermanfaat dan pada kesempatan ini juga saya ingin mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Sumber: Fiqih Wanita karangan Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah

Saturday, June 5, 2010

Ayat- Ayat Pernikahan


Teriring doa untuk kakak lisa yang menikah hari ini..
Moga Allah memberkahi pernikahannya..amiin


***
Ayat-Ayat Pernikahan

Maha Benar Allah yang telah berfirman :

"Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".

"Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" 

(Qs. Al Israa' : 32).


Dari Al Quran dan Al Hadits :
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. 
JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. 
Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." 
(QS. An Nuur (24) : 32).


"Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49)


¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¨ 

(Qs. Yaa Siin (36) : 36).


Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, 

kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, 
dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik 
(Qs. An Nahl (16) : 72).


Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, 

dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. 
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. 
(Qs. Ar. Ruum (30) : 21).


Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, 

sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. 
Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, 
menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya.
 Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana 
(Qs. At Taubah (9) : 71).


Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu 

yang telah menjadikan kamusatu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, 
kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. 
(Qs. An Nisaa (4) : 1).


Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang melimpah (yaitu : Surga) 

(Qs. An Nuur (24) : 26).


..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. 

Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..
(Qs. An Nisaa' (4) : 3).


Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah 

apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan 
akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. 
Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya 
maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. 
(Qs. Al Ahzaab (33) : 36).


Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah :

Rasulullah SAW bersabda: 
"Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"
(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).


Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : 
berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah 
(HR. Tirmidzi).


Dari Aisyah, 
"Nikahilah olehmu kaum wanita itu, 
maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¨
 (HR. Hakim dan Abu Dawud).


Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: 
"Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." 
(HR. Baihaqi).


Dari Amr Ibnu As, 
Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.
(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).


"Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : 
a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. 
b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. 
c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."
"Wahai generasi muda! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." 
(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).


Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. 
Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak 
(HR. Abu Dawud).


Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain
(HR. Abdurrazak dan Baihaqi).


Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, 
daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)
(HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).


Rasulullah SAW. bersabda : 
"Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan 
sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" 
(HR. Bukhari).


Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang 
(HR. Abu Yala dan Thabrani).


Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : 
Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, 
maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat.
 (HR. Ibnu Majah,dhaif).


Rasulullah SAW bersabda : 
Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu.
 Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan 
menambah keluhuran mereka 
(Al Hadits).

***

sumber
image


The 3rd Trimester: Doa-Doa untuk Meminta Keturunan yang Baik

Ini beberapa doa yang sering saya panjatkan ketika hamil. “rabbi innii nazartu laka maa fii batni muharraran fataqabbal minni, inn...